"Sebab hal2 yang paling hakiki, dan yang membentuk eksistensi kita, justru tidak pernah menampakkan wajah mereka"
-Paulo Coelho, Seperti Sungai yang Mengalir"Berpeganglah selalu pada diri sendiri. Tapi akan selalu ada, meskipun sedikit, meskipun tiada kau rasakan, orang2 yang berpikiran sama denganmu, yang bisa memahamimu, yang bisa menyayangimu. Kau tidak akan benar2 sebatang kara. Kita tidak akan benar2 pernah sendirian…"
-Eliza V. Handayani, Area X:Hymne Angkasa RayaTitik Pertengahan
Katakanlah, kau memiliki mimpi, cita2, harapan, atau ideal diri. Tentang dirimu. Tentang hidupmu. Tentang masa depanmu. Kesemuanya itu tidak terbentuk dalam sekejap mata. Melainkan sebuah proses panjang yang dipengaruhi oleh karakter, lingkungan, kejadian2 sehari2, termasuk juga pertautan2 antara kau dan orang2 di sekitarmu.
Sebut saja mimpi, cita2, harapan, dan ideal dirimu berada di salah satu ujung suatu lintasan.
Katakanlah, mereka memiliki mimpi, cita2, harapan, dan ideal diri. Tentang mereka, Tentang hidup mereka. Tentang masa depan mereka. Namun tidak melulu hanya menyangkut mereka. Ternyata ada namamu dalam mimpi, cita2, harapan, dan ideal diri tersebut. Mimpi, cita2, harapan, dan ideal diri tentangmu. Tentang hidupmu. Tentang masa depanmu. Sama denganmu, kesemuanya itu tidak terbentuk dalam sekejap mata. Melainkan sebuah proses panjang yang dipengaruhi berbagai hal.
Sebut juga, mimpi, cita2, harapan, dan ideal diri mereka tentangmu berada di ujung lainnya suatu lintasan yang sama denganmu. Mengapa harus lintasan yang sama denganmu? Bukankah mereka bukan kau? Karena, saat ini sedang membicarakan dirimu. Hidupmu. Masa depanmu. Dan mereka memiliki kekuasaan serta campur tangan untuk berada di arahmu. Jadi, disanalah mereka. Selintasan denganmu. Namun, kami berbeda arah. Kau di ujung sini dan mereka di ujung sana.
***
Jika ada dua pihak yang berada di ujung yang berbeda namun berada dalam satu lintasan yang sama, mungkinkah keduanya dapat bertemu di satu titik?
Tunggu ….
Titik di sebelah mana? Jika dimana saja, kemungkinan itu pasti ada. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini bukan? Namun, jika di titik sebelah mana saja itu tidak adil. Akan ada satu pihak yang berlari ekstra keras untuk akhirnya dapat bertemu di satu titik.
Kalau begitu, titik itu harus titik pertengahan bukan?
Idealnya seperti itu. Pertengahan yang berarti seimbang. Adil. Tidak berat sebelah. Kedua pihak sama2 tidak dirugikan. Sama2 dapat saling menerima. Sama2 legowo.
Dan mungkinkah itu? Sedangkan kalian berada di arah berlawanan.
Bagaimana jika kalian sama2 saling menjauh dan bukannya saling mendekat? Bukannya akan semakin menyakitkan?
Karena aku sangat tahu. Kalian juga sama2 tahu, bagaimana kerasnya kalian. Bagaimana sulit mengalahnya kalian. Bagaimana kokohnya kalian pada apa yang kalian yakini.
Jikapun akhirnya salah satu dari kalian mengikuti arah yang lainnya, aku tahu, bisa jadi, yang mengalah itu akan membawa sebuah penyesalan hingga entah kapan.
Jadi??
Redefinisi Cinta
Beberapa hari lalu dalam suatu perkuliahan, mendadak pembahasan kelas menghempas jauh hingga topik cinta dan jodoh. Gara2nya karena ada sepasang teman -berlainan jenis- yang setiap perkuliahan selalu duduk berdampingan. Nah, ternyata Pak Dosen ngeh dengan hal tersebut sehingga beliau menyangka jika sepasang teman tadi terlibat hubungan cinta atau minimal sedang pedekate. Padahal keduanya memang bersahabat erat sejak masih menjadi mahasiswa baru. Duduk pun selalu berdampingan. Kemana2 pun selalu bersama.
Kelas riuh oleh sorak sorai anak2. Kedua teman tadi habis diceng2in. Mereka senyum2 sambil ikut bercie2. Ya, jika menyangkal maka serangan kepada mereka akan semakin menjadi2. Jadi untuk amannya, diiyakan dan diikuti saja apa yang sekelas sorakkan. Pembicaraan semakin melenceng ketika Pak Dosen mengatakan jika beliau sangat mendukung akan mahasiswa2nya yang sedang membangun cinta. Bahkan beliau menyatakan siap menjadi sponsor untuk peresmian suatu hubungan. Wah… Selanjutnya, masih kata beliau, masa perkuliahan adalah masa yang tepat untuk bertemu jodoh. Sangat disayangkan jika selama berkuliah tidak berhasil menemukan sang tambatan hati. Selesai berkuliah dan memasuki dunia kerja, kesempatan untuk menemukan seseorang yang tepat akan semakin berkurang. Benarkah demikian? Hmmm.
Membicarakan cinta memang selalu menarik. Topik tentang cinta selalu diminati sejak sesorang beranjak puber. Ketika tiba2 jantung berdebar saat berpapasan dengan sang pujaan hati dari kelas sebelah. Semakin seru ketika seseorang memang telah masanya untuk menggenapkan yang belum genap. Ketika sibuk menebak2 siapakah dia sang belahan jiwa. Ah, urusan cinta benar2 luar biasa dahsyatnya. Degup jantung, muka bersemu merah, harap2 cemas, lalu apa lagi?
Cinta, apa itu? Bagi saya sangat sederhana. Cinta itu seperti apa saya kepada Ibuk, Bapak, Mak, dan Dd. Bagaimana itu? Jika diminta menceritakan saya juga tidak tahu. Harus memulainya darimana dan seperti apa nantinya. Yang pasti tidak akan ada akhirnya menceritakan tentang mereka. Rasanya seperti itu cinta. Tanpa awal, tiba2 saja ada, namun tiada akhir.
Kita ini peradaban yang lemah. Tanpa listrik satu jam saja, kita tidak dapat berbuat apa2
-Eliza V. Handayani, Area X: Hymne Angkasa Raya
Mendadak fungsi otak berhenti
Seliweran pikiran menjadi tak berarti
Waktu tiba2 terhenti
Dan kaki bagai tak menjejak bumi
Waktu itu
saat pertama kali mata ini bersitatap dengan mata itu
